Thursday, January 11, 2018

Belajar Mereview 6

Bismilah

Review presentasi hari ini adalah untuk kelompok 7 beranggotakan 2 orang yaitu mbak Astuty Amir dan Yuyun Naila.

Presentasi kelompok 7 sudah menjawab “pentingnya membangkitkan fitrah  seksualitas pada anak”

Dikatakan  

Rekomendasi untuk orang tua:
- Orang tua agar terus berproses dalam mempersiapkan dan menggali ilmu yang memadai agar dapat memberikan pendidikan seksual yang tepat dan sesuai untuk anak. 
-Membatasi anak-anak dengan dunia digital secara cerdas melalui kesepakatan dan mufakat bersama. 
- Membangun kedekatan dengan anak sejak dini. Sehingga orang tua digunakan sebagai sarana "curhat" anak bukan orang lain

Menurut saya, rekomendasi bisa merupakan bagian dari solusi dari tantangan yang yang dihadapi saat ini selain solusi yang ditawarkan yakni membangkitkan fitrah anak sesuai tahapnya.

Dan ternyata ada solusi tambahan lagi, mengapa tidak digabung saja menjadi solusi dan dibuat menjadi beberapa point. Saya belum mendapatkan maksud dari “solusi tambahan” 

Banyak mengutarakan pentingnya pendidikan seksualitas. Karena pendidikan seksualitas mempengaruhi perkembangan fitrah seksualitas. Semakin baik pendidikan yang diterima maka seharusnya fitrahnya semakin baik. Walaupun keberhasilan perkembangan fitrah seksualitas ini baru dapat dirasakan dikemudian hari. Karena prosesnya tidak bisa instan. 

Demikian review singkat hari ini. 



Materi kelompok 7

*Apa itu fitrah seksual?*

Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kedekatan pada Ayah dan Ibu, serta memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.

*SOLUSINYA* ??

Solusinya adalah menumbuhkan fitrah seksualitas pada anak sejak dini. Ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap. 

✅Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya
karena ada menyusui 

✅Usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. 


✅Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat. 

✅Tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?

Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya.

Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya.

*Sbrapa pentingkah untuk kita bangkitkan?*

πŸ’£SANGAT PENTING πŸ’£
Ketika anak sudah mengerti fitrah seksualitas. Maka dia akan mampu melindungi tubuhnya dari kejahatan seksual, baim sebagai korban maupun pelaku

❗❗FAKTA❗❗
(sumber unicef dan Kemenkoninfo,2015)

Skrining 400 subyek remaja usia 10-19 tahun. Mengungkapkan: 
✅Data terakhir KPAI menunjukkan bahwa dari tahun 2014 ke 2015 kasus kekerasan seksual pada anak meningkat 100%
✅Terjadinya kekerasa seksual pada anak tidak lepas dari peran dan pola pengasuhan orang tua
✅Pengasuhan era digital berbeda dengan pengasuhan zaman dulu. Orang tua perlu merubah pola pengasuhannya
✅Di Indonesia setidaknya 30juta anak-anak an remana merupakan pengguna internet. 
80% menggunakan internet untuk mencari informasi. 
70% mencari teman leeat platform medsos
65% musik
39% situs video
24% berinteraksi dengan orang tidak dikenal. 25% diantaranya memberitahukan alamat dna no telepon. 52% mengakui telah menemukan konten pornografi dari situs yang tidak mencurigakan
14% mengakui mengakses konten pornografi dengan sukarela.

*Apa saja tantangan kita hadapi saat ini berkaitan dengan gender??*

✅sikap kritis anak seputar masalah seksualitas 
✅Adanya pengaruh perkembangan teknologi yang semakin luas dan mudah diakses anak. Termasuk informasi seksualitas yang belum tentu tepat dan sesuai diakses anak (Halimah, 2016 (studi kasus pendidikan anak usia dini)
✅LGBT, kekerasan seksual 
✅Paparan lingkungan anak, pergaulan 
✅ Pemberian pendidikan seksual secara merata baik untuk anak-anak autism (aspek sosial dan lingkungan)

πŸ†πŸ†Rekomendasi untuk orang tua:
✅Orang tua agar terus berproses dalam mempersiapkan dan menggali ilmu yang memadai agar dapat memberikan pendidikan seksual yang tepat dan sesuai untuk anak
✅Membatasi anak-anak dengan dunia digital secara cerdas melalui kesepakatan dan mufakat bersama
✅Membangun kedekatan dengan anak sejak dini. Sehingga orang tua digunakan sebagai sarana "curhat" anak bukan orang lain

Tips &  Trik mengenalkan fitrah seksual sejak dini (Ala Uty&YuyunπŸ˜‚)πŸ˜‚

✅Membuat diskusi keluarga tentang sek edu sesuai dengan perkembangan usia anak
✅ Melalui slide yg menarik
✅ Bermain peran
✅ Melalui mainan. Misalnya puzzel tentang bagian tubuh.
✅ Melalui lagu. Misalnya bagian mana yang boleh di sentuh. Siapa yang boleh menyentuh dll
✅Ajak anak bersosialisasi 
✅ Bersamai anak dengan kisah-kisah edukasi. Misalnya si Aisyah perempuan sehingga dia memakai kerudung
✅Lewat buku
✅Toilet Training

*Sumber* 

Data 400 subyek remaja usia 10-19tahun, Sumber: unicef dan Kemenkoninfo (2015)

Fitrah seksualitas, Elly Risman Musa (2016)

Halimah, studi kasus pendidikan anak usia dini (2016)

Www.lendyagasshi.com, Pendidikan Seksualitas Anak Sejak Dini (2016)*

Www.mimpipejuang.wordpress, Mengajarkan pendidiman seks untuk anak menurut Islam (2015)



Wednesday, January 10, 2018

Belajar Mereview 5

Bismilah

Haii ketemu  lagi.... kali ini giliran kelompok 6 yang akan di review, mbak fike hilya rohma dan mbak ani fitriani dewi tim kreatifnya.

Penyajian yang menarik sehingga bersemangat untuk membacanya. Setelah membaca isi dari presentasinya, banyak disoroti masalah pendidikan seksual dalam sebuah keluarga. “Seberapa pentingnya fitrah seksualitas?” dijawab dengan salah satunya agar anak terjaga dan mampu menjalani peran sesuai fitrah mereka.

Tentang solusi ada 2 poin besar yang diyakini dapat memberikan penyelesaian terhadap tantangan yang dihadapi, yaitu kesiapan orang tua dan pola asuh ke anak, yang kedua mengarahkan kecenderungan seksual anak.

Kedua solusi ini menuntut diri sebagai orang tua untuk terus menyadari kesalahan dan bertekad untuk memperbaiki diri.

Pada akhir presentasi ada tambahan informasi tentang kaidah-kaidah pendidikan seksual pada anak. Jika pendidikan seksual tidak tuntas dikhawatirkan anak bisa mempercayai informasi yang menyesatkan.






Solusinya








Tuesday, January 9, 2018

Belajar Mereview 4

Bismilah

Hari ini giliran kelompok 5 yang anggotanya mbak Afarul Ulifa dan mbak Herlina. 

Presentasi disajikan dalam bentuk infografis yang menarik dan melihat isinya selain mengulas fitrah seksualitas juga tentang pendidikan seksual pada anak. Secara keseluruhan menjawab “Pentingkah membangkitkan fitrah seksualitas anak?”

Kalau dicermati pada beberapa bagian pada “solusi” menurut hemat saya, masih terlalu panjang yang sebenarnya bisa lebih dipersingkat atau diberikan sub judul di atasnya kemudian penjelasan singkatnya. 

Atau solusi tersebut masih bisa dikelompokkan sesuai kategori agar tidak terlalu banyak poin. Cukup 3 sampai 5 poin paling banyak. 

Misal: 

Solusinya dengan mengoptimalkan pendidikan seksual kepada anak-anak dengan cara memisahkan kamar tidur, menjaga tontonan anak, mengajarkan anak meminta ijin masuk ke kamar orang tua, menjaga pergaulan, mengajarkan mandi wajib, menjaga aurat.

Jadi beberapa poin solusi yang disajikan sebenarnya masuk dalam satu kategori yaitu “mengoptimalkan pendidikan seksual kepada anak-anak”.


Ada satu penjelasan pada poin solusi yang perlu dikaji ulang yaitu poin ketiga 

“Mengajarkan pada anak tata krama dalam pergaulan dan pertemanan sejak usia dini. Anak laki-laki sebaiknya berteman dengan laki-laki, anak perempuan berteman dengan anak perempuan..dst” 

Menurut ustadz Adriano Rusfi
Anak tidak boleh mengalami segregasi yang terlalu dini artinya memisahkan laki-laki dan perempuan sejak usia TK. Mereka harus diinteraksikan agar tahu perbedaan laki-laki dan perempuan, tahu bagaimana jika bermain dengan lawan jenis. Tahu perbedaan bentuk tubuh, suara dan lain-lain. Batasnya adalah umur 10 tahun atau setara kelas 4 SD. 

Dan saya setuju dengan pendapat ustadz tersebut. 

Demikian review saya kali ini, sekali lagi saya masih harus banyak belajar untuk mereview sebuah materi. Semoga dengan banyak latihan, review semakin baik dan tepat sasaran. Abaikan saja yaaa. Terimakasih telah bersedia membaca.











Monday, January 8, 2018

Belajar mereview 3

Bismilah

Review hari ketiga ini mengenai presentasi kelompok 4 yang juga terdiri dari 1 orang yaitu mbak Nurlian, masih tentang “Pentingkah membangkitkan fitrah seksualitas pada anak?”

Presentasi ditampilkan dalam bentuk infografis yang menarik. 
Awalnya diperlihatkan contoh-contoh kegagalan seorang ayah dalam keluarga dikarenakan fitrah seksual yang tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Sebagai contoh ayah yang galak, ayah yang tak tahu visi misi keluarga. 
Kegagalan seorang laki-laki di masyarakat yang tidak bisa berperan sebagai “laki-laki” dan seorang perempuan yang tidak bisa berperan sebagai “perempuan”, mengalami disorientasi seksual.

Kegagalan tersebut memacu kita untuk menyadari akan pentingnya menjaga fitrah seksualitas anak. 

Disebutkan pula dalam presentasi tersebut sebab akibat jika anak tidak dekat dengan orangtuanya.

Anak-anak yang tercerabut dari orang tuanya sejak dini, maka ketika dewasa anak akan mengalami gangguan kejiwaan. Selain masalah sosial juga masalah seksualitas.


Diulas juga tentang solusi yang bersifat pencegahan yaitu menjalin kembali kedekatan ayah ibu dengan anak-anaknya. Dengan cara-cara sesuai tahap perkembangan anak. Bagaimana ayah yang memperkenalkan seksual education kepada anak laki-laki, dan ibu kepada anak perempuannya. Ayah ibu yang “berani” bicara masalah seksual tentu ayah ibu yang sudah akrab, dekat, dan lancar dalam mengobrol. Karena sangat sensitif membahas masalah ini. Kebanyakan orang tua hanya bertanya masalah sekolah, PR dan tugas, tidak tahu kapan mereka mengalami balighnya. 

Ada pula solusi untuk mengatasi tantangan maraknya sosialisasi LGBT dan media pornografi yaitu dengan mengimbangi informasi tentang fitrah seksualitas di media sosial. 

Keseluruhan presentasi ini jelas dan sudah menjawab tentang “Pentingkah membangkitkan fitrah seksualitas pada anak”

Hanya saja terdapat contoh gambar perilaku LGBT yang sebaiknya disamarkan.

Demikian review dari saya. Kita bertemu lagi pada review selanjutnya.










G










Sunday, January 7, 2018

Belajar Mereview 2

Review presentasi hari ini. Presentasi oleh Kelompok 3 dengan 1 orang anggota yaitu bu Habsah. 

Berikut ini yang dapat saya tangkap dari presentasinya :

Isi dari materi presentasi sangat memberikan pencerahan. Fitrah seksual dijelaskan dengan baik, dan penyebab penyimpangan yang diulas bermula dari kesalahan pola asuh yang bisa jadi dianggap sepele dimasa lalu. Misal tentang pemberian nama yang jelas menunjukkan laki-laki atau perempuan, memperlakukan anak dengan benar, tidak memakaikan kerudung pada anak laki-laki. 

Dalam materi tersebut mengambil satu contoh penyimpangan yaitu penyimpangan “disorientasi seksual” dan solusi dari penyimpangan tersebut kembali pada pola asuh kedua orang tua.

Terdapat dalil Al Quran juga untuk menguatkan pernyataan bahwa solusi dari semua permasalahan adalah dengan bertaqwa dan kembali kepada fitrah

Presentasi disajikan dengan poin-poin yang masih sangat tersirat, jika outlinenya adalah 

🌱apa fitrah seksualitas seberapa pentingkah untuk kita bangkitkan?
🌱Apa saja tantangan yang dihadapi saat ini berkaitan dengan gender?
🌱Pikirkan sebuah solusi
🌱Buatkan media edukasi,
maka bahan materi tersebut masih bisa diolah lagi sesuai outline yang diminta dalam tantangan ini.

Demikian review singkat ini untuk lebih lengkapnya saya lampirkan link materi presentasinya

https://www.evernote.com/shard/s616/sh/380c806c-12be-4c7c-9d38-d29f46841f69/81ee48eaa68172cef7df0867cba83b34

Terimakasih telah membaca review yang saya buat, semoga bermanfaat. 

Saturday, January 6, 2018

Belajar mereview 1

Membuat review artinya kita harus menemukan celah yang perlu dikoreksi hmm ini bagian yang tersulit sementara saya bukan ahli dalam bidangnya. Selain celah yang wajib kita temukan, review juga memberikan informasi apa yang saya dapatkan dan rasakan. 

Untuk presentasi dari kelompok 2 (saya lampirkan screenshootnya) Mbak Febriani Petty dan Mbak Nungki yang luar biasa ini pastinya dibuat dengan investasi waktu, tenaga, pikiran yang luar biasa pula. Sedikit informasi yang dapat saya sampaikan adalah sebagai berikut:

1. Ada pengumuman sebelum memulai presentasi sehingga teman-teman lain bisa menyiapkan diri untuk mengikutinya. Dan ada batasan jam diskusi. 

2. Presentasi disajikan dengan menggunakan slide sehingga  lebih menarik dan tidak bosan membacanya.

3. Point-point tersaji dengan cukup jelas dan dapat menjawab maksud dari outline yang diminta. 

4. Pada point “Tantangan” sudah sangat lengkap, dan terdapat solusi yang terbagi menjadi solusi gerakan sadar seksualitas dari  rumah  dan solusi di luar rumah. Menurut hemat saya, pada slide perlu diperjelas kembali dari tantangan fenomena aqil dan baligh tidak bersamaan, apa saja solusi agar aqil dan baligh tidak terlalu jauh beda waktunya. Bisa dikemukakan hal apa saja yang dilakukan oleh ayah dan hal apa saja yang dilakukan oleh bunda.

5. Media Edukasi atau media pembelajaran lebih ditujukan ke masyarakat umum atau ke keluarga, belum ada penjelasan singkatnya pada slide.


Demikianlaah review singkat dari saya, abaikan saja, saya hanya sedang belajar untuk melihat sesuatu dari segala sisi dari siai kelebihan dan kekurangan, kelebihan untuk dipertahankan sedangkan kekurangannya bisa sebagai masukan untuk berkarya lebih baik lagi.









Thursday, January 4, 2018

Pentingkah membangkitkan fitrah seksualitas anak?

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Apa itu fitrah seksualitas?

Setiap anak dilahirkan dengan jenis kelamin laki laki dan perempuan tidak ada yang lainnya

Fitrah kelelakian pada anak laki-laki
Dan fitrah keperempuanan pada anak perempuan berbeda
Bagi anak perempuan akan berkembang menjadi peran keperempuanan dan kebundaan
Bagi anak lelaki akan berkembang menjadi peran kelekakian dan keayahan

Fitrah seksualitas ini interaksi terbaiknya adalah dengan keluarga, ayah dan ibu. 

Perlu dicermati tahapan perkembangan mulai 0 sampai akil baligh
Tahap 0-7 tahun pra latih
Tahap 7-10 tahun pre aqil baligh 1
Tahap 10-14 tahun pre aqil baligh 2

Tahap > 15 tahun post aqil baligh

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Seberapa pentingkah untuk kita bangkitkan?

🌷Pentingnya pendidikan seksualitas adalah krn anak sekarang tumbuh lebih cepat dibanding generasi ortunya atau kita sekarang. Jadi, pendidikan seksualitas ini semacam akselerasi.

Maksudnya begini, pendidikan seksualitas tujuan utamanya adalah menjadi manusia yang berakhlak mulia pada keluarga, menjadi personal yang dewasa dengan peran keayahan/peran keibuan yang kokoh. Kenapa sekarang materi ini perlu, kenapa jaman kita dulu tdk diberikan materi spt ini?

Krn, jaman dulu pendidikan seksualitas bisa kita dapatkan dengan sempurna melalui interaksi alamiah kita (anak2 pada waktu itu) dengan lingkungan. Sementara sekarang, kematangan biologis datang lebih cepat pada anak2, sehingga diperlukan akselerasi. Berupa pendalaman oleh anak dengan pengarahan orang tuanya.

Dengan kata lain anak-anak telah mencapai baligh lebih cepat artinya secara fisik sudah matang namun tidak dibarengi dengan kematangan akalnya.

🌹Agar anak perempuan menjadi perempuan. Mengetahui dan mau menjalani peran sebagai perempuan dan sebagai ibu. Begitu juga laki-laki. 



🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Apa sajakah tantangan yang kita hadapi saat ini berkaitan dengan gender?


1. Menyampaikan pendidikan seksualitas pada anak-anak dengan gamblang tapi tdk vulgar

2. Tantangan jaman LGBT yg sangat agresif

3. Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„

Buatlah media pembelajarannya!


Media edukasi/Media Pembelajaran:

1. Bersama anak mengambil pelajaran dari  melalui kisah Nabi dan Rasul terdahulu(kisah nabi Luth, kisah nabi dan istri2nya) bisa juga  melalui dongeng ttg Diva dan teman laki-laki dan perempuannya.

2. Diskusi dengan anak-anak, berdasarkan pengamatan anak-anak selama ini apa saja tugas dan tanggung jawab sebagai laki-laki dan perempuan.

3. Mulai mengajarkan keterampilan untuk anak-anak sesuai jenis kelaminnya.



🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Bagaimanakah solusinya?

1. Solusinya menjalani pola asuh sesuai tahapan perkembangan anak


Apa saja yang dapat kita lakukan pada masing-masing tahap tersebut?

Perlu dicermati tahapan perkembangan mulai 0 sampai akil baligh
🌸 Tahap 0-7 tahun pra latih
Yang menjadi concern adalah KELEKATAN

Usia 0-2 tahun anak didekatkan kepada ibunya karena masih menyusui
Usia 3-6 tahun didekatkan kepada ayah ibunya
Usia 3 tahun identitas harus jelas 


🌸 Tahap 7-10 tahun pre aqil baligh 1
Yang menjadi concern di tahap ini MEMBANGKITKAN KESADARAN seksualitas lewat kedekatan dan peran sosial dengan cara:
πŸ’ anak lelaki didekatkan ke ayah agar peran sosial seorang lelaki dan seorang ayah di dapat dari ayahnya
πŸ’anak perempuan didekatkan ke ibu agar memahami peran-peran sosial seorang perempuan dan seorang ibu didapat dari ibunya.

🌸 Tahap 10-14 tahun pre aqil baligh 2
Yang menjadi concern di tahap ini adalah
MEWUJUDKAN PERAN SEKSUALITASNYA SECARA BERTANGGUNG JAWAB
πŸ’ anak perempuan didekatkan ke ayah, anak lelaki didekatkan ke ibu
Agar menjadi rujukan pertama tentang lawan jenisnya dan sosok ideal lawan jenisnya ada pada ayah ibunya

πŸ’ kamar dipisah


🌸 Tahap > 15 tahun post aqil baligh
πŸ’diharapkan sudah mencapai perkembangan yang sempurna yaitu
Akhlak mulia pada keluarga, menjadi personal yang dewasa dengan peran keayahan/peran keibuan yang kokoh.


Tujuan akhirnya adalah Adab/akhlak mulia pada pasangannya nanti dan anak-anaknya kelak.


2. Memberikan imunitas kepada anak-anak agar tidak terpengaruh terhadap penyimpangan-penyimpangan seksual yang terjadi saat ini. 


3. Interaksikan antara laki-laki dan perempuan untuk yang belum baligh batasnya adalah 10 tahun tujuannya agar anak mengetahui perbedaan laki-laki dan perempuan

4. Memasukkan ke sekolah “Boarding School” atau “Pondok Pesantren” jika anak telah memiliki orientasi seksualitas yang jelas atau fitrah seksualitas telah berkembang baik.


5. Jika anak mengalami penyimpangan seksual maka :

🌼 perlu melihat kembali atau introspeksi diri terhadap peran ayah bunda diwaktu lampau. Mungkin kurang perhatian, kurang dekat dengan ayah atau bundanya.

🌼Buat ayah bunda belum terlambat untuk memperbaikinya, mundur sejenak pada tahap yang terlewati untuk kemudian mengulangi dan menjalani prosesnya lagi. 

🌼 Selalu memperbaiki diri, sayangi diri dan keluarga. Banyak penyimpangan yang terjadi karena kurangnya kasih sayang orang tua semasa kecil atau karena kebencian anak terhadap salah satu atau kedua orangtuanya. 

🌼 perbanyak aktivitas-aktivitas atau berikan keterampilan yang sesuai dengan gendernya. 

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Sumber tulisan:

🌿 Buku Fitrah Based Education (FBE) ustadz Harry Santosa

🌿 Kita dan Buah Hati, by Elly Risman, Mei 2012

🌿 https://free.facebook.com/notes/kita-dan-buahhati/pentingnya-pendidikan-seksualitas-bukan-pendidikan-seks-untuk-anak/10151843179705657/?__tn__=H-

🌿 https://bykamelia.wordpress.com/2016/02/22/pola-asuh-rentan-lgbt-oleh-ust-adriano-rusfi/

Mastermind dan False Celebration

  Anggota Tim yang memberikan sarannya:  #ibupembaharu #bundasalihah #darirumahuntukdunia #hexagoncity #institutibuprofesional #semestaberka...