Showing posts with label I Must Change First. Show all posts
Showing posts with label I Must Change First. Show all posts

Friday, July 14, 2017

Aliran rasa menstimulasi anak membaca

Aliran rasa menstimulasi anak senang membaca

Anak-anak pada dasarnya senang hal-hal baru, termasuk membaca. Dengan membaca  , anak menemukan sesuatu yang baru, pengetahuan, cerita yang mengasyikkan, cerita yang memberi hikmah dan membuka wawasan. Namun anak-anak rentang konsentrasinya pendek, agar tidak bosan, perlu diselingi dengan kegiatan lainnya. 

Agar anak suka membaca orang tua perlu memberi contoh, dengan sering membaca buku yang kita sukai. Anak yang melihat orangtuanya membaca biasanya anak juga mengambil buku yang ia sukai dan ikut-ikutan membaca. Buku-buku untuk anak-anak ditempatkan di rak yang mudah terjangkau dan mudah diambil. Anak dengan umur 10 tahunan sudah bisa membaca sampai selesai, sedangkan anak saya yang masih berumur 6 tahun sebentar saja sudah bosan, dan ingin didampingi. Akhirnya saya melepas buku saya dan menemani dia membaca. Bisa dengan mendengarkan saja, menceritakan kembali atau mendengarkan dia untuk menceritakan kembali, ini pun belum tentu dia mau, masih harus sering-sering ditumbuhkan keinginan berceritanya.

Saya sadar banget kalau kemampuan membaca huruf dan memahami tidak berbanding lurus.

Kilas balik waktu dulu masa kecil, sukanya membaca majalah bobo dan donal bebek, yang banyak gambar dan warnanya. Serial 5 sekawan, saya ga suka karena ceritanya panjang dan tentang petualangan, dulu banyak ga ngertinya. Kalo waktu ulangan atau ujian SD, paling males soal cerita matematika dan bagian wacana Bahasa Indonesia hehehe. Semakin besar dan dewasa membaca bukan hanya kewajiban tapi sudah merupakan kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu, menambah pengetahuan dan wawasan. Sejak kuliah tepatnya mulai menyenangi dan mencintai buku. Dan baru-baru aja sampai pada kesadaran bahwa membaca itu "hanya" kegiatan konsumtif. Kita harus mengolahnya menjadi kegiatan yang produktif yaitu dengan bernarasi baik secara lisan maupun tulisan. Dan anak-anak sedang dibimbing ke arah itu, klo udah umur-umur seperti saya hmmmm udah telat siih tapiii better late than never...tetep bisa ditumbuhkan kebiasaan bernarasinya.

Tetap semangatt mendampingi anak-anak mencapai kemampuan membaca, memahami, menceritakan kembali secara lisan  atau tulisan.


Wednesday, June 21, 2017

Mudik..teteep bawa buku

Bismillah berangkat mudik..
Anak-anak dipersilakan membawa barang yang diinginkan, boneka, mainan, alat-alat decoupage, alat rajutan dan lain-lain dalam ranselnya masing-masing. Tidak ketinggalan buku yang sedang dibaca saat ini oleh salah satu anak saya Nisa. Biasaa serial bumi, bulan, matahari, now bintang dan next komet, dari penulis favoritnya  Tere Liye. Barang-barang yang dibawa yang penting tidak terlalu banyak dan berat.

Ternyata temen-temen sekelasnya bergiliran membaca novel serial Tere Liye milik Nisa. Kalau temannya sedang main ke rumah, selalu menceritakan kembali apa yang telah dibacanya. Saya belum kesampean untuk baca novel itu, pernah baca yang serial anak mamak, seperempat buku yang judulnya Eliana. Asyik banget kalau kita ceritakan kembali bersama anak. Seru rasanya.. 

Iyaa... saya setuju bahwa buku dapat membantu mengeratkan hubungan antara ibu dan anak. Jadi tidak kehabisan bahan obrolan, tidak melulu nasehat atau perintah..

Tuesday, June 20, 2017

Sebuah pertanyaan

Membaca literasi ataupun membaca tanda-tanda, membaca situasi, membaca keadaan, membaca apapun, harus distimulasi dengan baik. Sudah menjadi kebutuhan kita akan membaca literasi, baik itu yang berasal dari media buku, media sosial, media elektronik dan lain-lain. Tanpa membaca, pikiran akan menjadi sempit dan sibuk dengan hal yang kurang penting. Lebih jauh, tanpa membaca kita tidak bisa mengenal diri sendiri dan Allah.

Membaca literasi bisa distimulasi dengan bermacam cara, diantaranya seperti yang pernah di ulas di IIP, dengan pohon literasi, dengan dibacakan dongeng terlebih dahulu, membaca bersama, dan memberikan teladan buat anak, artinya mulailah dari diri sendiri. Lalu bagaimana menstimulasi  membaca seperti yang dimaksud dalam surah Al-Alaq dalam Al-Quran? 

#tobecontinued

Catatan membaca Nisa

Nisa masih on process baca buku Bintang-nya Tere Liye. Suatu saat akan saya todong untuk memceritakan garis besar novel bumi, bulan, matahari, bintang dan next komet.

Monday, June 19, 2017

Stimulasi menulis anak, melalui coret-coret tembok

Bisa membaca belum tentu memahami makna. Bisa menulis (huruf) belum tentu bisa menulis karya.

Menurut yang saya pelajari di IIP-nya bu Septi Peny Wulandani, tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan ketrampilan berbahasanya adalah sebagai berikut

a. Keterampilan mendengarkan ( listening skills)
b. Ketrampilan Berbicara ( speaking skills)
c. Ketrampilan Membaca ( reading skills)
d. Ketrampilan Menulis ( writing skills)

Tahap-tahap keterampilan bahasa jangan sampai terlewat, jika terlewat tahap sebelumnya, maka akan kesulitan dan tidak sempurna di tahap selanjutnya.

Maka kita lihat kembali pentingnya membaca dalam hidup kita adalah sebagai sarana mengenal Allah dan mengenal diri kita sendiri.

Dalam tahap menulis yang saya pelajari di IIP adalah bisa dengan memberikan ruang berupa satu bidang tembok untuk coret-coret, dimana anak-anak bebas menuangkan ide, dalam bentuk tulisan atau gambar.

Kami memiliki tembok yang diperkenankan untuk dicoreti sesukanya, ada gambar, ada sedikit tulisan. Walaupun tetap kurang konsisten tapi semoga saja dapat menstimulasi kemampuan menulisnya.

Sedangkan pohon literasi kami masih belum terlalu banyak daunnya. Perlu konsisten dan disiplin untuk membaca sehingga merimbunkan daun-daunnya. 

 Tembok coret-coret

Saturday, June 17, 2017

Cerita tentang gen halilintar versi Nisa

Nisa pengen bercerita tentang buku yang dibacanya.. ini tentang gen halilintar yang selalu menjadi topik pembicaraan dengan adik-adiknya. Bahkan dia hafal dengan 11 orang nama anak-anak gen halilintar. Kita tunggu ceritanya. Sepertinya saat ini masih asyik membaca.

To be continued

Friday, June 16, 2017

Menjalani tahap-tahap agar anak suka membaca


Kemampuan bernarasi baik lisan ataupun tertulis perlu terus dilatih.

Tahapan-tahapan yang harus dilewati agar anak memiliki kemampuan bahasa menurut pengalaman ibu Septi Peny Wulandani
1. Tahap mendengar.
2. Tahap berbicara
3. Tahap membaca
4. Tahap menulis

Jika saat ini anak kita masih belum dapat dimengerti cerita secara lisan dan tulisannya kemungkinan kita orang tua melewatkan tahapan berlatih mendengar. Kurang dibacakan cerita, kurang diajak berkomunikasi, mungkin juga kurang silaturahmi. Kita orang tua melewatkan tahap berbicaranya, melewatkan tahap membaca dengan tujuan SUKA membaca, sehingga belum bisa  menghasilkan tulisan. Dan tahap selanjutnya dapat berjalan baik dengan catatan tahap sebelumnya terlewati dengan baik juga. 

Ada baiknya mundur sejenak untuk menemaninya mencapai kemampuan bahasa yang optimal.

Berikut cuplikan cerita dari mitha yang saya tulis langsung. Mitha menceritakan kembali youtube yang ditontonnya. 

-----
Nenek pelihara anjing warna hitam, dikasih makan, ada org rambut panjang lewat pake sepeda. Digonggong terus sama anjingnya habis itu nenek yang melihara anjing itu sakit di bawa kerumah sakit . Anjingnya padahal mau ikut nenek itu, tapi nggak dibolehin sama dokternya.

(Lanjutannya ditulis oleh Tiara, umur 10 tahun)

Anjing hitamnya kelaparan di pinggir jalan .
Setiap  pagi si anak itu ngasih makan anjingnya. Lama lama anak itu melihara anjing itu. Anjingnya itu bernama olieng.
Setiap hari anak itu memberi makan , bercanda canda, dan bermain dengan anjing itu.

Biasanya kalau sekolah olieng harus menunggu di tempat penunggu bis.
Sampai anak itu datang.
Tapi , pada suatu saat si anak sekolah, si olieng hilang dari tempat penunggu bis.
Dan anak itu menemukan anjingnya mati di keramaian orang orang.

Si anak pun menagis dan langsung membawa olieng ke tempat dokter tapi ternyata tempat dokternya lagi tutup.
Jadi saking sedih nya  si anak itu, jadi dia gedor gedor pintu dokter yang tertutup.
Pada saat itulah terakhir kali nya si anak itu melihat anjingnya, olieng.
Setelah kejadian itu si anak itu ingin menjadi dokter .
----
Demikian, masih banyak yang harus dibenahi, terutama diri ini yang harus peka terhadap perkembangan bahasa anak-anak.

Thursday, June 15, 2017

Tiara bernarasi

“Ayo kakak, ceritakan ke bunda apa yang sudah dibaca" 
"Yeeaay.. iyaa bunda..Tapi sebentar bun, mau di refresh dulu.." 
"Baiklah, Kak”
 
Judulnya Si Itik Buruk Rupa

Ada itik yang mengerami telurnya, semua sudah menetas kecuali 1 telur yang agak keras dan lebih besar cangkangnya. Ada itik lain yang mengira bahwa telur yang belum menetas itu adalah anak kalkun. Tak berapa lama telur terakhir menetas, dan dia bukan kalkun, namun bulunya hitam dan badannya besar, dia dianggap itik buruk rupa. Itik buruk rupa dibully oleh sekitarnya termasuk induk dan saudara2nya. Akhirnya dia pergi dari induknya dan menuju rawa-rawa tinggal bersama itik liar. Ternyata di rawa itu banyak pemburu dan anjingnya. Itik buruk rupa lepas dari pemburu dan anjingnya. Kemudian si itik buruk rupa pergi ke pondok yang kumuh. Dan masuk ke pondok tersebut, sampai bertemu kucing yang dapat mengalirkan listrik, ayam yang bisa bertelur. Kucing mendengkur dan ayam berkokok. Datanglah nenek pemilik pondok, karena nenek itu rabun matanya, melihat itik tersebut seperti melihat burung yang sangat cantik yang bisa bertelur. Itik buruk rupa pun mempunyai keahlian khusus seperti halnya kucing dan ayam. Itik buruk rupa keluar pondok dan berenang terus sampai musim dingin. Dan dia tidak sadar air telah menjadi es, si itik terperangkap.

Ada pemahat yang menolong si itik

Dan tidak bisa keluar dari air itu. Si itik buruk rupa pun hanya bisa pasrah, sampai ada yang mau menolongnya. Setelah beberapa waktu kemudian akhirnya ada orang pemahat yang membawa alat pemahat es yang berat. Dan saat pemahat es itu melihat si itik itu terperangkap di permukaan es yang membeku, langsung saja pemahat es itu menolong itik itu dengan alat pemahat nya.

Itik pun bersyukur karena bisa selamat dari dinginnya air yang membeku. Lalu pemahat es itu langsung membawanya ke rumahnya yang hangat. Di dalam rumah itu ada keluarga si pemahat es itu. Ada istrinya dan dua anaknya. Kedua anaknya itu selalu memegang bulu itik itu akan tetapi si itik tidak menyukainya sehingga ia terbang dan mendarat di panci berisi susu sampai susu yang ada di dalam panci itu tumpah dan si itik buruk rupa itu berlari lagi ke mangkok kecil yang berisi mentega dan si itik loncat lagi ke kantong berisi tepung!

Wah coba bayang kan bagaimana suasananya! Sang istri berteriak karena si itik buruk rupa telah mengotori rumahnya. Sang istri mencoba untuk memukul itik itu , sementara anak anaknya ingin menangkap itik itu. Dan akhirnya si itik buruk rupa pun keluar dari rumah pemahat es dengan ngos- ngosan.

Si itik pun telah dewasa

Setelah itu si itik buruk rupa berlari lagi entah kemana dan si itik itu tinggal di suatu tempat sampai musim panas tiba. Sampai ia melihat danau yang jernih. Dan sekarang si itik buruk rupa sudah besar dan dewasa. Karena haus, ia pun meminum air danaunya yang jernih. Si itik melihat ada sekelompok angsa yang cantik. Akan tetapi angsa itu tidak melihat itik itu dengan heran, seperti itik yang ada di rawa-rawa dulu. Si itik itu pun bingung, yang penting si itik buruk rupa itu bisa meminta minum di danau yang jernih itu. Dari sekelompok angsa itu ada yang berkata "Apakah kamu mau menjadi kelompok kami di sini?"

Si itik buruk rupa pun menjawab "Bagaimana bisa kalian menerima ku karena aku ini kan jelek!" Sekelompok angsa pun bingung dan bertanya tanya "Jelek? Apanya yang jelek?" Itik pun melihat dirinya di pantulan air danau. "Wow..!" 
Ternyata si itik buruk rupa itu telah menjadi angsa yang cantik seperti mereka! Itik yang dulunya buruk rupa sekarang telah menjadi angsa cantik. Ia pun saaaaangat bahagia dan langsung menjadi anggota dari mereka.

Setelah beberapa waktu kemudian Ada beberapa anak anak yang berkata " hey ! Ada apa di sana! Itu adalah angsa kita yang baru! Waah cantik sekali!". Si itik buruk rupa yang sekarang menjadi angsa yang cantik itu , sangat senang mendengar ucapan mereka itu...

(Seperti yang dituturkan oleh Mirza Mutiara Hanifa, sebagian dia ceritakan bebas, sebagian lagi dia tuliskan langsung dengan sedikit mengedit)

Kesimpulan

Jika kita melihat cerita tersebut anak itik itu dianggap berbeda dan dikucilkan karena sebenarnya dia bukan itik, tapi dia adalah angsa. Angsa berbeda dengan itik, biarkan dia tumbuh sebagai angsa.

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita itu

Bersabarlah dengan kondisi dimana lingkungan menghina dan melecehkanmu, tetaplah berkarya dan asah kepribadianmu sebaik-baiknya. Pada saatnya nanti mereka akan melihat dirimu yang sebenarnya. Lingkungan bahkan orang tua sering menganggap anak yang berbeda adalah anak bodoh dan menyusahkan. Buat orang tua harap bersabar, tetap sayangi anak dengan perbedaannya. Atau orang tua akan menyesal nantinya.

Wednesday, June 14, 2017

Mitha.. ayo bunda bacain cerita yaa...

Bunda: "Mitha, ayo baca buku.."
Mitha: "Ayo.., tapi mitha maunya buku yang kecil-kecil aja"
Bunda: "Buku ini aja yaa, (sambil menunjuk buku kumpulan dongeng, Hans Christian Andersen)"
Mitha: "Ga mau, mitha mau yang ada gambarnya"
Bunda: "Bunda bacain dulu ya.., ini ceritanya bagus, mitha dengerin aja ya.."
Mitha: "Iyaa deh"


Sepenggal dialog membujuk mitha untuk mau dibacakan buku yang tebal. Mulailah membaca, salah satu cerita di dalamnya yang judulnya "Kisah seorang anak yang menginjak roti". Eh ternyata dia suka ceritanya dan terlihat menikmati alur ceritanya. Banyak pelajaran di dalam cerita itu, ada hal positif dan negatif. Mitha yang 6 tahun bisa menyebutkan sesuatu yang seharusnya dilakukan dan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.
 
Dari dialog di atas, anak-anak perlu diperkenalkan buku-buku yang berjenis Living Book, yaitu buku-buku yang memiliki keindahan bahasa, keindahan cerita dan terdapat banyak hikmah yang terkandung. Semacam kisah-kisah Nabi dan Rasul adalah Living Book yang sangat perlu kita perkenalkan kepada anak-anak. Agar menjadi teladan buat mereka.
 
Mengapa Living book? 
Karena kalau tidak dibiasakan membaca bacaan berbobot, anak-anak akan terbiasa baca buku yang berjenis twaddle atau sangat ringan dan kurang memiliki keindahan bahasa. Ketika saya bacakan cerita, banyak kata-kata baru untuk mitha, nambah lagi kosa katanya. Memang sangat penting banyak membaca itu.
 
Sekarang mitha sering minta dibacakan cerita dari buku dongeng itu..Nanti ada gilirannya dia akan menceritakan kembali apa yang sudah pernah didengarnya.


Beberapa waktu yang lalu, sudah pernah mencoba membaca buku dongeng itu sebanyak 5 lembar. Padahal buku itu tulisannya lumayan kecil dan sangat membosankan karena tidak ada gambar sama sekali, alhamdulilah dia sudah mau, walaupun belum bisa sepenuhnya menangkap maknanya, ini PR lagi buat saya..


Semangaat....

Tuesday, June 13, 2017

Giliran Nisa bernarasi

Hari ini giliran nisa yang menceritakan buku yang dibacanya, judulnya " Ayahku bukan pembohong " ~Tere Liye

"Dalimunte tidak percaya cerita ayahnya, karena ceritanya kurang masuk akal, yang diceritakan ayahnya tentang seorang bintang dibidang olahraga. Anak-anak Dalimunte senang sekali mendengar cerita ayah Dalimunte. Tapi karena hari sudah malam, anak-anak diminta untuk tidur. Istri Dalimunte ingin ayah dalimunte tetap tinggal di rumah karena kasihan ayahnya Dalimunte tidak mempunyai tempat tinggal. Namun Dalimunte tidak berkenan ayahnya tinggal di rumahnya, karena jadwal belajar dan kegiatan anak-anaknya menjadi kacau. Ayah Dalimunte, memberikan syarat jika para cucu ingin mendengarkan cerita, harus mengerjakan kegiatan sehari-hari terlebih dahulu.

Dan akhirnya ayahnya Dalimunte dan Dalimunte diskusi tentang cerita yang diceritakan kepada para cucu. Apakah benar-benar terjadi?

Dalimunte keberatan karena ayah asyik bercerita kepada anak-anak, mereka menjadi tidak mau sekolah. Ayah dalimunte diminta pergi dari rumah. Anak-anak Dalimunte tetap tidak mau sekolah dan ingin ayah dalimunte kembali.

Dalimunte mencari lewat google asrama yang pernah ditempatinya untuk mencari ibunya, namun tidak ketemu, akhirnya search nama ibunya. Yang kata ayah dalimunte ibunya adalah artis, dan dalimunte percaya cerita ayahnya tentang ibunya, setelah menemukannya di internet.

Tak lama terdengar kabar dari teman dekat ayah Dalimunte, ayah dalimunte pingsan di pemakaman ibu Dalimunte. Kemudian ayah Dalimunte masuk rumah sakit. Setelah dijenguk, dokter memberitahukan bahwa ayah Dalimunte memanggil nama Dalimunte. Ayah Dalimunte kemudian berbicara kepada Dalimunte dan menceritakan tentang ibunya yang artis, yang meninggal karena penyakit, yang bisa sembuh apabila ibu merasa bahagia, umurnya bisa panjang karena melahirkan dalimunte. Setelah beberapa menit cerita ayah Dalimunte menghembuskan napas terakhir, setelah ayah Dalimunte dimakamkan datang lah sang bintang olahraga yang biasanya diceritakan pada anak-anak Dalimunte untuk ikut melayat. Saat itulah Dalimunte menyadari bahwa ayahnya bukan pembohong. Dan semua itu sudah terlambat.

Demikianlah cerita dari Nisa tentang buku yang dibacanya, cukup bisa dimengerti dan menarik untuk dibaca versi lengkapnya di novel.

Menurut Nisa, pelajaran yang bisa diambil dari novel itu:
Tidak boleh berprasangka buruk dengan orang tua, karena akan menyesal jika ternyata prasangkanya tidak sesuai dengan kenyataan. Dan ketika menyadarinya semua telah terlambat.

Sunday, June 11, 2017

Jadwal fleksibel merimbunkan pohon literasi

Jadwal membaca buku dengan anak-anak sangat fleksibel alias berubah-ubah.

Target untuk membaca buku klo saya pengennya menyelesaikan pending buku-buku yang sudah dibeli, yang kebanyakan hanya dibaca sepertiganya atau hanya pendahuluan. Bahkan baru kebaca judulnyaa Hehehee sok sibuk inii..

Juga menyelesaikan download materi webinar yang telah diikuti.

Target si kakak dan adik bergantian membaca buku kumpulan dongeng yang dikategorikan sebagai living book yaitu kumpulan dongeng terbaik Hans Christian Andersen. Diantara dongeng yang familiar adalah Kisah Si Itik Buruk Rupa
 
Kalau mbak Nisa sedang membawa buku "My Pinky Guest" kemana-mana. Buku ini bercerita tentang apa dan bagaimana menghadapi baligh bagi perempuan. Rasa ingin tahunya besar dan sepertinya dia sedang membutuhkan buku itu sebagai bekalnya nanti menghadapi masa baligh yang pertama.
 
Ayah kurang suka membaca buku, mungkin diganti dengan membaca artikel-artikel yang tersebar di internet, atau berupa video-video kajian di youtube. Yang penting ada input yang baik dari apa yang dibaca, ga harus melalui buku. Tetep harus juga punya kewajiban merimbunkan daun di pohon literasi ini..
Kasian kan pohon yang daunnya jarang, apalagi ga punya daun...













Friday, June 9, 2017

Salah satu penyemangat itu bernama Pohon Literasi

Pohon literasi sudah setengah jadi...
Waktu itu diskusi sama anak-anak..
Kira-kira pohonnya dibikin gimana ya?
"Di bikin pohon besar digambar di dinding aja buun, nanti saya bikinkan pohonnya" kata Tiara yang pinter gambar
"Okee"...
Setelah pilih-pilih akhirnya saya relakan dinding kamar untuk digambari. Sebenernya ga perlu begitu, tapi saya seneng banget kalo anak-anak happy, tak mengapa hanya dinding, dibanding kebahagiaan mereka bisa coret-coret.
Saya bilang gambar pohonnya saja tanpa daun, dibikin cabang pohonnya 5 cabang, karena jumlah keluarga kita semua 5 orang. Satu orang merimbunkan satu cabang pohon Daun digambar satu-satu setelah selesai membaca buku.. yang paling rimbun daunnya adalah yang paling banyak membaca.

Paling tidak setelah membaca tau intisari bukunya, dan sanggup menceritakan kembali secara lisan atau tertulis. Tantangan buat saya dan anak-anak juga. Tujuannya membiasakan membaca dengan fun. Tanpa pohon literasi pun bisa, namun dengan pohon ini menjadi lebih bersemangat dan happy selayaknya bermain games.
Yuuk nak.. nanti tempel daun asli juga boleeh, biar kaya hutan kamar kita..hehehe





Gambar masih pake pensil










Mastermind dan False Celebration

  Anggota Tim yang memberikan sarannya:  #ibupembaharu #bundasalihah #darirumahuntukdunia #hexagoncity #institutibuprofesional #semestaberka...